Masihkan Anak Bangsa ini tahu akan Pahlawannya ?

Posted: November 18, 2011 in inspirasi, juara
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Suatu sore seorang anak kecil itu ribut, nangis, teriak, dan segala tetek bengeknya itu hanya sekedar untuk meminta mamanya untuk menonton film seri SpongeBob di salah satu station TV swasta. “Ma, minta beli in Boneka itu … ”
Si anak kecil itu pun merengek-rengek meminta ibunya untuk membelikan boneka Patrick untuk melengkapi koleksi bonekanya, meskipun di kamar sudah ada boneka Spongebob, Mr Krabb, si siput Garry dll.  Ironis sekali jika sekarang malah cerita kartun tentang sponge bob, sinchan , doraemon,dll yang menjadi tontonan setia anak anak bangsa ini.


Akankah nantinya bangsa ini akan teringat akan kisah-kisah SpongeBob-Patrick dan melupakan kisah-kisah perjuangan Bung Tomo dalam mempertahankan Surabaya dari serbuan penjajah Inggris. Akahkah kita ingat ketika suara takbir pun menggema. Ratusan bahkan ribuan nyawa melayang. Kepulan asap dan kucuran darah menjadi pemandangan biasa. Surabaya berkobar, sejarah mencatatnya. Dan arek-arek Suroboyo pun berhadapan secara frontal dengan tentara Inggris dan sekutunya. Tentara Inggris kehilangan dua perwira tingginya, Mallaby dan Mansergh. Sebuah kisah heroik yang mengesankan. Itulah pertempuran 10 November yang dijadikan hari besar bagi bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan.

Hikayat Prang Sabi

Hikayat Prang Sabi adalah salah satu inspirator besar dalam menentukan perjuangan rakyat Aceh. Memang sejak dulu bangsa Aceh sangat akrab dengan syair-syair perjuangan Islam, sajak-sajak akan sebuah hakikat keadilan. Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap telinga anak-anak aceh, laki-laki, perempuan, tua muda, besar kecil.

Kalau kita belajar dari sejarah, maka Acehlah yang paling sulit untuk ditaklukkan oleh Belanda sejak tahun 1873. Beribu macam taktik perang yang digunakan tetapi tidak dapat menguasai Nangro Aceh Daro Salam. Sejarah mencatat bahwa perang kolonial di Aceh adalah yang paling alot, paling lama, dan paling banyak memakan biaya perang dan korban jiwa kompeni.

Atas perintah Teuku Cik Di Tiro tahun 1881 di gubahlah syair HPS oleh Teuku Pante Kulu. Dan setiap akan berperang maka dibacakanlah syair itu di sawyah-sawyah menasah, di bacakan di desa-desa untuk mengobarkan semangat jihad ke masyarakat.

Dan hasilnya pada pertempuran di Kuto Lengat Biru 14 Juli 1904 wanita dan anak-anak yang syahid tercatat 316 orang. Semangat jihad inilah yang semakin tidak menggetarkan rakyat Aceh untuk terus berjuang.

Pihak Belanda pun kelimpungan untuk mengatasinya, dimulailah dikirim tokoh Belanda Snouck Hurgronje yang disusupkan untuk mempelajari kebudayaan Aceh menemukan jalan pikiran, sikap dan perilaku rakyat Aceh. Tujuh bulan di Peukan, Snouck bergaul amat rapat dengan ulama. Dan dengan diam-diam, hampir setiap malam, dia mencatat semua percakapannya dengan kaum ulama, struktur masyarakat Aceh, dan kedudukan ulama di mata rakyat. Lalu, dengan rapi catatannya itu dia persembahkan pada Gubernur Jenderal di Batavia.

Tak cukup dengan catatan itu, Snouck kemudian membuat buku, De Atjehers, yang memaparkan secara lengkap struktur masyarakat Aceh, kebudayaan, sampai posisi ulama. Segera buku itu menjadi terkenal, bahkan mendapat pujian dari para orientalis sebagai karya yang secara lengkap mengupas kebudayaan Islam di Aceh. Bagi Belanda, karya itu menjadi rujukan untuk menyusun taktik menghadapi perlawanan rakyat Aceh. Dan terbukti, Aceh pun kemudian dapat dikalahkan

Salah satu bagian paling penting dari Hikayat Prang Sabi adalah pendahuluan atau mukadimah. Bagian yang juga berbentuk syair ini menunjukkan secara jelas tujuan ditulisnya Hikajat Prang Sabi, dalam hubungannya dengan perang melawan Belanda. Setelah diawali dengan puji-pujian kepada Allah pencipta semesta alam, syair-syair pada mukadimah berlanjut pada seruan untuk perang Sabil. Juga disebutkan satu pahala yang dapat diperoleh bagi mereka yang berjihad dalam perang Sabil (jalan Allah-Red). Salah satu pahala yang akan diterima mereka yang mati syahid dalam perang tersebut adalah akan bertemu dengan dara-dara dari surga.

Kerinduan akan sebuah kisah perjuangan

Tidak Aneh jika beberapa negara saat ini berkembang berawal dari sebuah kisah tokoh-tokoh bangsa itu atau tentang kisah kejayaan bangsa itu. Negara Indonesia ini salah satunya dibesarkan dari sebuah kisah tentang keinginan dan harapan bagi terciptanya nusantara yang bersatu oleh Gajah Mada. Sebuah harapan Patih Gajah Mada untuk menyatukan berbagai pulau, ras, agama, dan suku di nusantara dalam satu negara menjadi inspirator para tokoh-tokoh pemuda bangsa -Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Batak dan Jong lainnya dalam Sumpah Pemuda tahun 1928.

Bangsa ini akan semakin rindu dengan Kisah-Kisah Perjuangan para pahlawan (Pangeran Dipengoro, Imam Bonjol, Soekarno, KH Agus Salim) atau cerita-cerita rakyat yang mengajarkan tentang identitas bangsa ini (kebaikan, keadilan, persatuan) yang dulu sering diperdengarkan oleh ibu-ibu kita ketika akan menidurkan anaknya.

Dan harus terus kita ingatkan pada anak cucu kita bahwa bangsa ini masih mempunyai sebuah kisah tentang bangsa Indonesia yang berketuhanan, berkeadilan, bermartabat, dan berketeladanan. Bangsa ini masih mempunyai banyak kisah perjuangan membela keadilan dan kebenaran. Bangsa ini masih memiliki banyak pahlawan yang berjuang dengan misi yang suci. Bangsa ini tidak dibesarkan oleh penjahat, bangsa ini bukan hanya dihiasi oleh kisah-kisah penjahat bangsa, cerita-cerita ketidakadilan, kebobrokan moral para pejabatnya, permasalahan korupsi, perpecahan bangsa, belalang-belalang tua (lirik lagu iwan fals) yang menjual nilai keadilannya hanya untuk sebuah jabatan, kedudukan, kursi dan harta.


Kisah-kisah tersebut dapat menjadi salah satu modal berharga dalam membangun karakter bangsa ini. Pembangunan karakter bangsa ditentukan oleh seberapa baiknya pembinaan keluarga. Pembinaan keluarga menjadi momen awal bagi anak bangsa untuk menentukan jati dirinya. Tentu saja, langkah kongkret melakukan transfer pola pikir dan cara hidup tidak perlu dilakukan melalui gerakan besar. Sebuah gerakan di komunitas kecil seperti keluarga, organisasi maupun lingkungan sekitar akan lebih efektif. Dengan demikian, proses transfer pola pikir dan cara hidup pun akan berjalan lebih lama.Namun hasilnya diyakini akan mampu merubah kondisi masyarakat Indonesia dalam banyak segi.

ditulis oleh Nizar Ihromi Hidayat
Peserta PPSDMS regional IV Surabaya

Teknik Informatika 2002

Comments
  1. […] Liang Liji Ahli Bahasa Indonesia di TiongkokCara pria merawat wajah – TegalBahari.ComMasihkan Anak Bangsa ini tahu akan Pahlawannya .set-header:after{ background-image: […]

  2. redyandri says:

    Vivaaaaaaaaaaaatttttt!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s