Jendral Soedirman

Posted: January 10, 2010 in inspirasi
Bagi para penggemar NagaBonar 2, pasti ingat kisah kata2 ini

Jenderal, turunkan tanganmu…
apa yang kau hormati siang dan malam itu???
apa karena mereka yang di depanmu itu memakai roda empat???
bah!!!
tidak semua dari mereka pantas kau Hormati !!!
turunkan tangan mu Jenderal… “

kemudian Nagabonar pun maju kehadapan dan memanjat patung Jenderal Sudirman di Jalan Sudirman, Jakarta
ada seutas tali yang menggelantung di tangan kanan jenderal …
nagabonar pun menarik tali itu…dipanjatnya tali itu
Nagabonar menangis…dan berkata…

turunkan tanganmu ,jenderal !!
turunkan tanganmu ,Jenderal !!
turunkan tanganmu ,Jenderal !!
turunkan tanganmu ,Jenderal !!

Kasihan Jendral,
di tengah kemasyuhran namanya, ternyata beliau sendirian
di biarkan seorang diri di antara hutan belukar ganas kota Jakarta
jadi “penunggu” gedung2 bertingkat di sekitarnya yang seolah olah menenggelamkan namanya.

Namun, Syukur Alhamdulillah juga
Jendral lebih memilih menghadap dan hormat ke arah istana Presiden
sebagai lambang “Ketakziman” beliau kepada Seorang Soekarno
meski kadang beliau memiliki sikap yang bertentangan dengan Soekarno
dan malah Beliau lebih memilih membelakangi Semanggi – Trunojoyo.

(seperti yang kita ketahui bersama
Patung Jendral soedirman berada di jalan Saedirman, Jakarta
membelakangi Plaza Semanggi – Jalan Trunojoyo, dan menghadap ke arah Bunderan HI)

Apalah lagi kata Naga Bonar , kalau lah Jendral ini dibangun patungnya menghadap ke arah Semanggi – Trunojoyo.

dengan tetesan air mata, Naga Bonar akan berkata
balikkan badanmu, Jendral… !!
balikkan badanmu, Jendral… !!
balikkan badanmu, Jendral… !!

Pengorbanan Sang Jendral

Jendral Sudirman dikenal sebagai pemimpin yang konsekuen, berjiwa sosial dan mampu menghargai
dan bersanding bersama pasukan dan rakyat,
sampai rakyat pun rela memandu Sang Jendral dalam gerilya masuk keluar hutan
pada masa Agresi Militer II saat beliau menderita sakit paru- paru yang sangat parah.

Jendral Sudirman atau yang lebih dikenang Sebagai Panglima Besar, lahir di Bodas Karang Jati-Purbalingga,
24 Juni 1916 dan meninggal dunia di Magelang pada tanggal 29 Januari 1950 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogya,
dan dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

Dikisahkan dengan berbagai versi cerita,
pada masa perang gerilya clash kedua (1948-1949) mulai berjalan di Klaten,
tatkala Jendral Sudirman dan pasukannya baru keluar dari kota dan tiba di Klaten yang terletak di sebelah timur Jogja.
Daerah itu terkenal oleh penduduknya yang berkecukupan, dan banyak industri.
Seorang staff Jendral Sudirman mengusulkan pada Si Panglima untuk meminta
pada penduduk yang kaya agar memberikan harta bendanya demi membiayai perang gerilya.

Apa jawaban Jendral Sudirman?

Jendral Sudirman diam dan memanggil ajudannya. Beliau menyuruh ajudannya kembali ke Jogja untuk menemui istrinya.
Dimintanya si ajudan meminta istrinya untuk menyerahkan semua perhiasan yang dibelinya sejak jaman Belanda — untuk membiayai perang gerilya.
Sang Jendral memilih menyuruh istrinya untuk menyerahkan harta benda demi perjuangan.
Seketika itu juga istri beliau malah memberikan mas kawinnya untuk dijadikan juga sebagai bantuan biaya untuk mendukung suaminya dalam berjuang.

Semoga lahir kedepan Soedirman2 baru di TNI dan POLRI
dan lahir Jendral Soedirman di hati kita sendiri

ref :
http://www.detiknews.com/read/2009/11/14/144046/1241718/10/jadi-anak-buah-jenderal-kok-bangga
dan seharusnya spanduk pada HUT ke-64 Brimob, di ganti menjadi

“KAMI ANGGOTA KORPS ****** BANGGA MENJADI ANAK BUAH JENDERAL SOEDIRMAN”

===========================================
saya bukanlah pendukung Bibit atau Chandra,
kalau mereka benar, maka segeralah bebaskan dari semua perkara ini
kalau mereka salah, maka potong lah tangannya

saya hanya berharap, jangan bunuh KPK !!!

Tentu saya Cinta Polri, namun cinta saya untuk Polri tak sedalam Cinta saya untuk KPK dalam pemberantasan Korupsi dalam beberapa tahun terakhir ini.
Tentu saya Cinta KPK, namun cinta saya untuk KPK tak sedalam Cinta saya untuk POLRI atas usaha Polri dari jaman kemerdekaan hingga saat ini untuk mengayomi dan mengamankan masyarakatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s